

SEJARAH SINGKAT DESA MUARA
Rekam Jejak Historis dan Transformasi Administratif Desa Muara
I. Fase Genesis: Dekonsentrasi dan Pemekaran Wilayah (1970)
Eksistensi Desa Muara merupakan manifestasi dari dinamika pembangunan kewilayahan di pesisir selatan Kabupaten Lebak. Titik tolak kesejarahan ini dimulai pada tahun 1970, melalui kebijakan pemekaran unit administratif Desa Binuangeun.
Langkah strategis tersebut memfragmentasi wilayah induk menjadi empat entitas desa otonom, yakni: Desa Muara, Desa Sukatani, Desa Wanasalam, dan Desa Cipedang. Sejak momentum dekonstrasi tersebut, Desa Muara secara resmi berdiri sebagai sub-sistem pemerintahan desa yang berdaulat, yang pada medio tersebut bernaung di bawah yurisdiksi administratif Kecamatan Malingping.
II. Periodisasi dan Estafet Kepemimpinan (Era Malingping)
Dalam perjalanannya melintasi berbagai dekade, Desa Muara telah dikelola oleh suksesi kepemimpinan yang dedikatif. Tercatat 13 figur pemimpin yang telah meletakkan landasan fundamental bagi pembangunan sosial-ekonomi masyarakat. Berikut adalah kronologi kepemimpinan di era Kecamatan Malingping: 1. Darma (Pionir Fase Formatif). 2. Usman, 3. Marnasim, 4. Kasa, 5.Rape'i, 6. Kapi, 7. Sakib, 8. Atib, 9. Abas Atmaja, 10. Suryaman, 11. Syawawi Atmaja, 12. Bay Dedi Haerani, 12. Ujang Hadi (Fase Transisi Monumental). Setiap periode kepemimpinan merepresentasikan upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan potensi geopolitik desa, baik melalui integrasi sektor maritim maupun agrikultur.
III. Transformasi Struktural: Rekonstruksi Wilayah Kecamatan Wanasalam (2003)
Akselerasi pembangunan di wilayah ini mencapai titik puncaknya pada tahun 2003. Berdasarkan legitimasi hukum Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Lebak Nomor 3 Tahun 2003 tertanggal 23 Juni 2003, dilakukan restrukturisasi wilayah dengan pembentukan Kecamatan Wanasalam.
Melalui ketetapan yuridis tersebut, Desa Muara secara administratif bertransformasi menjadi bagian integral dari 12 desa yang menyusun konstelasi Kecamatan Wanasalam. Reorganisasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan aksesibilitas pelayanan publik serta mempercepat pertumbuhan ekonomi kewilayahan. Estafet kepemimpinan pada era baru ini dilanjutkan oleh: 1. Ujang Hadi Lajid (Peletak Dasar Pemerintahan era Wanasalam), 2. Dadan Ginanjar Edi, 3. H. Endang Fauroni, SE (Representasi Kepemimpinan Modern), 4. H. Ujang Hadi, S.IP (Periode 2021 – Sekarang: Representasi Transformasi dan Tata Kelola Digital). Kembalinya estafet kepemimpinan kepada H. Ujang Hadi, S.IP pada tahun 2021 menandai babak baru bagi Desa Muara. Fokus kepemimpinan saat ini diarahkan pada penguatan infrastruktur desa, transparansi anggaran, serta inovasi pelayanan publik berbasis teknologi informasi guna mewujudkan Desa Muara yang mandiri dan kompetitif.
IV. Makna Filosofis: Simpul Tradisi dan Modernitas
Nama Muara secara semantik merefleksikan filosofi pertemuan; sebuah titik temu antara arus sungai dan samudera raya. Hal ini melambangkan karakter masyarakat Desa Muara yang adaptif terhadap arus modernisasi, namun tetap rigid dalam memelihara nilai-nilai luhur serta kearifan lokal.
Sebagaimana muara yang menampung berbagai aliran air sebelum menuju samudera luas, Desa Muara senantiasa menjadi wadah bagi kemajemukan ide, budaya, dan potensi ekonomi. Kami meyakini bahwa kemajuan sejati hanya dapat dicapai melalui harmonisasi antara pemanfaatan teknologi informasi di era digital saat ini dengan penghormatan mendalam terhadap adat istiadat pesisir yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Inilah semangat "Muara yang Berdikari"—sebuah komitmen untuk terus mengalirkan kemanfaatan bagi seluruh warga.
Peta Desa
Alamat
Jl. Simpang-Binuangeun, Km.01 Binuangeun, Kp. Harapan RT 023 RW 006, Kec. Wanasalam, Kab. Lebak
Jam Kerja / Waktu Operasional


Batas Wilayah
Orbitasi (Jarak dari Pusat Pemerintahan)




SENIN - JUM'AT
JAM : 08.00 WIB s/d 16.00 WIB
